kerusakan lingkunga, khususnya hutan pada temapat hidup badak jawa. semakin memperhatinkan mendorong banyak upaya untuk melestarika badak ini agar tidak punah banyak cara yang di lakukan slah stunya, berdirinya pengkaran badak yang akan di laksanakan di gunung honje dengan luas 3000 hektar.

PANDEGLANG, KOMPAS.com

Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) akan mengembangkan penangkaran badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di blok Gunung Honje seluas 3.000 hektar tahun 2011 dan dipastikan tahun 2015 sudah memiliki keturunan, kata pejabat TNUK. “Penangkaran badak jawa itu akan dijadikan taman marga satwa dunia (TMSD) dan bisa mendongkrak pengunjung domestik maupun mancanegara,” kata Kepala Bagian Humas TNUK Enjat Sudrajat, Selasa (23/2/2010). Ia mengatakan, penangkaran ini bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dunia juga akan membantu, seperti dari Executive Director International Rhino Foundation Susie Eliis, Kimsei Vier (Tulsa Zoo), dan Ruchweet (Miami). Mereka akan membantu penangkaran pengembangbiakan badak bercula satu yang langka di dunia itu. Saat ini, kata dia, diperkirakan populasi badak jawa di TNUK lebih kurang hanya 60 ekor. “Dengan penangkaran ini diharapkan jumlah populasi badak bercula satu bertambah,” katanya. Selama ini, kata dia, habitat populasi badak jawa berada di lahan seluas 38.000 hektar kawasan TNUK, termasuk Gunung Honje. “Saya kira bila di lokasi Gunung Honje tentu sangat cocok selain tersedia pakannya, juga lokasi tidak berjauhan,” katanya. Menurut dia, dengan upaya pelestarian badak jawa ini, diharapkan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang harus mendukung karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Apalagi, kata dia, satwa badak jawa sudah dijadikan maskot Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Pengembangbiakan satwa langka di dunia ini melibatkan sejumlah peneliti dari beberapa negara untuk mengadakan konservasi di habitatnya di kawasan hutan TNUK, katanya. Bahkan, para donatur dari Amerika Serikat sudah siap memberikan bantuan untuk penangkaran pengembangbiakan badak jawa itu di TNUK. Bantuan tersebut dipergunakan untuk biaya operasional konservasi, monitoring, serta perlindungan badak. “Saya kira diperkirakan biaya penelitian ini memakan biaya cukup besar,” katanya. Selama ini, kata Enjat, di dunia peneliti genetik badak masih sangat kecil, apalagi satwa itu pemalu dan sulit ditemukan di habitatnya. Oleh karena itu, pihaknya harus hati-hati dengan program penelitian karena saat ini populasi badak jawa di TNUK hanya 60 ekor. “Jika penangkaran itu berhasil, tentu pengunjung bisa melihat langsung kehidupan badak sebab saat ini warga belum mengetahui keberadaan badak jawa itu,” kata Enjat Sudrajat. Sekretaris Yayasan Badak Indonesia Agus Darmawan mengaku optimististis penangkaran pengembangbiakan akan suskes dan terwujud tahun 2011 karena melibatkan tim peneliti yang mengetahui persis karakteristik badak. Saat ini, lanjut dia, populasi badak yang ada di dunia sebanyak lima spesies, yakni badak hitam (Diceros bicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak india (Rhinoceros unicornis), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). “Saya yakin TNUK akan berhasil mengembangbiakkan badak jawa,” katanya.