Bumi kita semakin rusak, dari ekonomi hingga lingkungan upaya penyadaran terhadpa pentingnya penyelamatan bumi terhadap dampak global warming sungguh nyata. hanya butuh dukungan dan bukti dari semua golongan msyarakat dari nyang paling tinggi hingga yang paling rendah untuk menjada bumi, sebagai warisan yang tidak ternilai harganya untuk ank dan cucu kita nantinya. ┬ákata yang tepat adalah “back to nature” berjalan kali, ataupun menggunakan sepeda onthel sebagai alat transportasi yang tidak menggunakan emisi gas buang sama sekali alias cuman pake tenaga sendiri buat ngayuh…

kalo kita emang sayang bumi ini, buktikan dari keseharian anda mulai mengurangi pemakaian plastik, berjalan kemana”. dn msih banyak lagi. tanggal 22 april 2010 yang bertepatan dengan hari bumi kemarin sebagai meomentum pergerakan dalam penyelamatan bumi, but bukan cuman sampai di situ, berkelanjutan dalam pemeliharaan tw sngatlah perlu, ada sedikit cuplikan berita yang bisa menggugah semngat kita unjtuk menye;amatkan bumi, seperti di bawah.

PALEMBANG, KOMPAS.com – Sejumlah mahasiswa pencinta alam dari berbagai universitas dan perguruan tinggi di Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (22/4/2010) mengarak bola dunia dalam ukuran besar serta menunggangi sepeda ontel, dalam aksi memperingati Hari Bumi Sedunia tahun 2010.

Mereka mengarak bola dunia (globe) dengan rute melalui Jl Jenderal Sudirman, berhenti di bundaran air mancur sambil berorasi terkait persoalan lingkungan hidup, kemudian menuju Taman Kambang Iwak Palembang.

Sebagian lagi peserta aksi itu mengendarai sepeda zaman dulu, biasa dikenal dengan sepeda ontel, sebagai simbol agar pemerintah menyelenggarakan kebijakan jalanan yang bebas kendaraan bermotor selama satu hari maksimal satu kali dalam satu bulan.

“Kebijakan bebas kendaraan bermotor dalam satu hari setiap bulan, akan mengurangi karbon yang dihasilkan dari bahan bakar minyak,” kata Capung, mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Ekonomi Unsri (Mafesripala), sekaligus koordinator aksi.

Menurut dia, melalui kegiatan itu berupaya untuk menimbulkan kesadaran kepada khalayak ramai agar senantiasa menjaga alam ini dari kerusakan akibat budaya membuang sampah sembarangan serta penebangan kayu di hutan secara ilegal.

Lewat aksi tersebut, mereka juga mengharapkan agar pemerintah menata ulang peraturan tentang alih fungsi hutan, dan juga menindak tegas oknum pelaku pembalakan liar (illegal logging) yang sampai saat ini pemerintah belum mampu menghentikannya, khususnya Pemprov Sumsel.

Dia menilai, Undang Undang (UU) Kehutanan, UU Perkebunan, UU Pokok Pertambangan, dan PP No:2 Tahun 2008 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang dinilai justru menjadi rekomendasi komersialisasi hutan lindung dalam bentuk baru.

“Semua itu menambah sederetan masalah lingkungan yang berdampak buruk terhadap masyarakat, seperti banjir dan tanah longsor,” ujarnya.

Agung Sulaiman, koordinator lapangan aksi itu menyatakan, mereka sengaja melakukan kegiatan itu untuk menanamkan cinta terhadap lingkungan sejak dini.

“Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan tisu yang berbahan baku dari kayu, karena akan mendorong tingkat penebangan hutan yang makin tinggi,” ujar dia.

Pantauan di lapangan, meski bertemu dengan massa aksi dari aktivis lingkungan, namun mereka tetap melaksanakan aksi secara sendiri-sendiri.

Aksi yang digelar berlangsung damai, bahkan sejumlah aparat kepolisian turut memberikan tanda tangan pada sebuah kain putih berukuran satu kali dua meter, sebagai wujud dukungan peduli terhadap lingkungan.

Mereka juga menggelar pentas musik sebagai metode pendekatan guna mensosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dari sampah plastik, serta larangan melakukan penebangan hutan secara ilegal kepada masyarakat Kota Palembang.

bukti konkrit sangat di butuhkan untuk bumi ini…tunjukkan apa yang bisa kita lakukan untk bumi kita.