sedikit intro dari saya..

sekarang kalo kita belanja kreseknya katanya bisa terurai en ramah lingkungan. tapi dari salah satu prusahaan dagang  yang tidak bisa di sebutkan merkx, plastik itu bisa terurai secara sempurna dalam waktu 2 tahun. woow lama juga y
kebanyakan dari merk dang tersebut menggunakan kresek dari produsen yang sama cuman sablonan aja di ganti-ganti. mungkin sih  dikarenakan produsen plastik tersebut bisa memproduksi dalam partai besar sedangkan temuan yang baru-baru ini yaitu plastik lidah buaya yang mudah terurai blom ada yang mau jadi donatur untuk di produksi dalam partai besar.  andai kalian tau spesifikasi dari kresek yang diangkat seorang mahasiswi unair surabaya anda pasti akan sangat setuju untuk menggunakan, selain ramah lingkungan plastik ciptaannya bisa terurai dalam waktu yang cepat yaitu seminggu..woooow …!!!

silahkan di baca dulu

Hasil riset mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya bisa menjadi alternatif penggunaan plastik yang ramah lingkungan.

PLASTIK sudah lumrah digunakan di mana-mana. Setiap belanja, Anda akan ditawari kantong plastik untuk membawa barang-barang. Gratis. kantong plastik menjadi bagian dari budaya melayani pelanggan.

Rupanya, Humaira resah. Mahasiswa jurusan Kimia Universitas Airlangga, Surabaya, itu cemas lantaran dampak negatif plastik tersebut terhadap perusakan lingkungan dan kesehatan. Humaira terdorong meriset sejumlah bahan alami untuk membuat plastik.

Dia menemukan, pati tanaman lidah buaya yang dicampurkan dengan sejumlah bahan seperti kitosan dan gliserol dapat berfungsi sebagai pelembut plastik (plasticizer), sehingga mudah terurai. “Lidah buaya mengandung ‘polisakarida’ yang dapat membentuk lapisan film plastik yang memiliki sifat antibakteri,” tutur perempuan 21 tahun itu menjelaskan pilihan risetnya.

Sifat antibakteri, lanjut Humaira, memudahkan degradasi plastik oleh mikroorganisme dalam tanah. hanya sekitar seminggu saja, plastik dapat terurai.

“Kitosan mengandung protein untuk memperkuat sifat mekanika atau kekuatan plastik. Gliserol sebagai plasticizer yang ramah lingkungan untuk memberikan kelenturan atau elastistisitas pada plastik,” tukas alumnus SMA Negeri 2 Jombang tersebut.

Humaira menegaskan plastik lidah buaya buatannya aman serta tidak mengandung bahan-bahan sintetis yang tak bisa terurai.

“Bahan-bahan seperti selulosa asetat, polietilen, polipropilen, poliamida, poliester, polivinil klorida (PVC), polivinil asetat, dan alumunium foil, semua itu tak bisa diuraikan oleh mikroorganisme dalam tanah,” paparnya.

Akhirnya, plastik akan menjadi sampah menumpuk yang potensial menimbulkan berbagai bencana alam dan penyakit.

“Umumnya plastik menumpuk dan mencemari lingkungan hingga bertahun-tahun. Plastik lidah buaya ini dapat terurai dengan tanah kurang dari satu minggu,” ujar gadis kelahiran Jombang tersebut.

Humaira juga menjelaskan, pada plastik sintetis umumnya ditambahkan bahan pelembut kimiawi agar tidak kaku dan tidak mudah rapuh. bahan pelembut ini sebagian besar terdiri atas senyawa golongan ftalat (ester turunan dari asam ftalat). “Padahal, penggunaan ‘plasticizers’ seperti PCB dan DEHA dapat menimbulkan kematian jaringan dan bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia,” paparnya.

Plastik ala Humaira sudah diuji meliputi pengukuran ketebalan, uji sifat mekanik, uji penggembungan (swelling), penentuan morfologi, dan uji sifat biodegradable.

Berdasarkan karakteristik itu, Humaira menemukan bahwa kondisi optimal didapatkan dengan mencampur pati lidah buaya dan kitosan dengan perbandingan 5% dan 4% berat per volume. “Di samping itu, berdasarkan hasil scanning electron microscopy (SEM), dihasilkan morfologi film plastik yang rata dan tidak berongga,” tutur Humaira.

Tertinggal
Pengalihan plastik konvensional dengan plastik berbahan biodegradable di Indonesia memang terbilang tertinggal. Sejak tahun 2008, perusahaan-perusahaan plastik di Amerika semakin mengembangkan bahan pembuat plastik biodegradable dari bahan-bahan alam yang terbarukan.

Natrure Work, salah satunya berusaha menciptakan plastik berbahan dasar jagung dengan menggunakan teknologi bernama ingeo. Jagung ternyata mengandung bahan polylactide (PLA) yang mudah terurai.

Selain jagung, sagu dan tepioka merupakan bahan yang paling banyak digunakan dalam membuat plastik biodegradable. Di Jepang sendiri telah disepakati penggunaan nama plastk hijau (geriinpura) untuk plastik biodegradable.

Yang perlu Anda cermati adalah meski perusahaan pembuat plastik di seluruh dunia mulai berlomba mengklaim produknya sebagai plastik biodegradable, tak semua plastik tersebut ramah terhadap lingkungan.

Misalnya, dua perusahaan yang membuat dan mendistribusikan plastik biodegradable justru berujung di pengadilan. Produsen Plastik biodegradable Goody Environment dan distributor NuPak dituduh telah gagal memenuhi standar internasional dan menyebarkan iklan yang menyesatkan.

Pada laman Goody Environment disebutkan bahwa produk mereka sudah diuji dan diverifikasi secara independen oleh laboratorium yang dipimpin Profesor Andy Ball dari Universitas Flinders, Australia.

Kenyataannya, menurut pihak universitas seperti dikutip dari Herald Tribune, Ball tidak melakukan uji coba atas kantong plastik tersebut melainkan kantong snack kentang yang diproduksi Goody Environtment. Sampai kasus itu diadukan, sudah 60 juta tas plastik tersebar di seluruh Australia.

Nah, sebetulnya Anda juga bisa cermat memilih plastik biodegrable. Perhatikan bahwa pembentuknya. Materi seperti ozo-degragable, oxo-biodegradable, oxy-degradable, oxy-biodegradable menggunakan bahan kimia. Laman http://www.facebook.com/l/8ea07sZV_YtO-a7rd4oTd4lZYog;Biodegradableplasticbags.com menegaskan berbagai produk plastik biodegredable setidaknya harus memiliki kode standar ASTM D6400 dan / atau DIN EN13432.

Pun, yang terpenting, plastik yang diklaim mudah terurai itu harus netral dari bahan polyethylene.

Sumber:

Media Indonesia
Rabu, 21 juli 2010
Hal.27
Jurnalis: Vini Mariyane Rosya