MATARAM—Sejumlah elemen kelompok tani dan LSM mendesak pemerintah provinsi dan kabupaten melakukan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) penggunaan batubara.

Kasus tewasnya petani di Orong Bukal Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim) yang diduga setelah mengirup asap pembakaran batubara saat pengomprongan tembakau membuat masyarakat resah.
‘’Sekarang masyarakat jadi panik, asap batubara menjadi barang menakutkan,’’ kata Ketua Serikat Tani Nasional (STN) NTB pada Lombok Post, Ahmad Rifai kemarin.
Kasus tersebut, kata Rifai menjadi bukti nyata dampak penggunaan batubara sebagai bahan bakar pengomprongan. Tidak menutup kemungkinan kasus serupa bisa terjadi di daerah lain. Apalagi di beberapa daerah, banyak yang menggunakan bahan bakar batubara.

‘’Kita yang sehat saja bisa sesak oleh batubara,’’ ujarnya.

Aktivis Lesa Demarkasi Saiful Muslim mendesak pemerintah untuk melakukan kajian AMDAL terkait penggunaan bahan bakar batubara ini. Kejadian tewasnya warga yang diduga setelah mengirup asap pembakaran batubara menjadi bukti tidak layaknya batubara sebagai bahan bakar pengomprongan.
‘’Sejak awal kami mempertanyakan konversi ke batubara ini,’’ ujarnya.
Dia meminta, sebelum terlambat pemerintah mengkaji ulang penggunaan batubara sebagai bahan bakar masal. Tidak bisa dibayangkan tingkat polusi jika puluhan ribu oven menggunakan batubara sebagai bahan bakar saat pengomprongan.

‘’Kami minta dari dinas kesehatan juga lakukan cek up kesehatan pada warga yang tinggal di sekitar pembakaran batubara,’’ katanya.

Aktivis LSBH NTB Suhaimi mengatakan, program konversi yang dilakukan pemerintah saat ini tak lebih dari pemaksaan. Pemerintah hanya memberikan bantuan untuk petani yang konversi ke batubara. Padahal, petani harus diberikan kewenangan penuh untuk menentukan bahan bakar apa yang akan mereka gunakan.
‘’Sekang pemerintah kesannya seperti promosikan batubara,’’ katanya. (fat)