PEKANBARU,  Terekamnya 12 individu harimau sumatera di bagian barat blok hutan Bukit Tigapuluh di Kabupaten Indragiri Hulu (Riau) dan Kabupaten Tebo (Jambi) merupakan kabar baik sekaligus peringatan. Alasannya, hutan alam yang tersisa di kawasan koridor satwa Bukit Tigapuluh-Bukit Rimbang Baling itu saat ini terancam pembukaan hutan secara masif.

Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera.

Hal yang mengejutkan adalah bertumpuknya harimau sumatera di satu kawasan hutan yang masih bagus tutupannya, termasuk di kawasan hutan produksi terbatas, hutan lindung, kawasan lindung berdasarkan RTRWP Riau, dan kawasan hutan yang berada di dalam area kerja konsesi hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya (LAJ) yang belum beroperasi. PT LAJ merupakan bagian dari Barito Pacific Group.

“Fenomena bertumpuknya populasi harimau pada satu kawasan hutan yang tutupannya masih bagus, atau dalam istilah ilmiah disebut fenomena crowding, diduga antara lain disebabkan oleh perubahan drastis tutupan hutan di kawasan hutan tersebut. Fenomena crowding tersebut biasanya terjadi dalam ekologi satwa ketika terjadi penyempitan habitat secara cepat,” kata Karmila Parakkasi, Koordinator Tim Riset Harimau WWF-Indonesia Program Riau, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (10/5/2011).

Dari penelitian keberadaan harimau yang dilakukan sejak 2005 hingga sekarang, diketahui bahwa koridor satwa Bukit Tigapuluh-Rimbang Baling ini merupakan habitat penting bagi harimau sumatera yang harus dikelola dengan bijak. Selain habitat harimau sumatera, kawasan lanskap Bukit Tigapuluh juga merupakan rumah bagi gajah dan orangutan sumatera serta masyarakat asli Orang Rimba dan Talang Mamak. Kondisi saat ini, kawasan tersebut mengalami degradasi karena pembukaan hutan alam dalam skala besar oleh perusahaan dan perambahan yang dilakukan oleh masyarakat untuk kebun sawit.

Tutupan hutan Blok Bukit Tigapuluh mulai mengalami degradasi besar-besaran, terutama dari tahun 2004. Beberapa perusahaan HTI, di antaranya PT Artelindo Wiratama, PT Citra Sumber Sejahtera, PT Bukit Batabuh Sei Indah, dan PT Tebo Multi Agro, terpantau melakukan penebangan hutan alam di areal kerja mereka yang juga merupakan rumah bagi harimau dan gajah sumatera. Detail pantauan mengenai penebangan tersebut dimuat dalam laporan koalisi LSM lingkungan di Riau dan Jambi pada Desember 2010. Perambahan hutan yang dilakukan oleh masyarakat juga menambah tekanan bagi hutan alam di lanskap tersebut.

“WWF mendesak pemegang konsesi di koridor satwa tersebut untuk benar-benar melakukan perlindungan daerah bernilai konservasi guna menghindari terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar,” kata Anwar Purwoto, Direktur Program Hutan, Spesies, dan Air Tawar WWF-Indonesia. “WWF juga meminta pemerintah di daerah maupun pusat melihat pentingnya kawasan koridor tersebut untuk kemudian menyesuaikan pengelolaannya sesuai dengan komitmen pemerintah dalam melindungi keberadaan satwa liar yang terancam punah.”