Salam Konservasi.

pada kesempatan ini admin ingin menyebarkan (share) kepada teman-teman pembaca tentang sedikit berita yang terjadi di daerah lain yang nampaknya itu merupakan perkembangan berita yang bagus dan menarik mengenai penanggulangan seta antisipasi. terhadap kerusakan bahkan menguntungkan lingkungan. berikur beritanya.:

Atasi Banjir dan Genangan

MATARAM-Masalah banjir dan genangan menjadi masalah yang cukup merepotkan Kota Mataram. Berbagai upaya dilakukan. Tidak hanya memperbaiki drainase, pemkot berencana membuat sedikitnya 2.000 lubang resapan biopori. ‘’Semuanya (lubang resapan biopori, Red) kita buat di beberapa titik yang menjadi langganan banjir ataupun genangan di Kota Mataram,’’ kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Mataram H Mutawalli kepada wartawan.
Lubang resapan biopori ini berfungsi untuk mengatasi banjir. Biopori menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya resap tanah terhadap air.
Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.
Dikatakan Mutawalli, pembuatan lubang resapan biopori ini dimulai awal Juni mendatang. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap titik-titik lokasi yang sering menjadi tempat genangan atau banjir ketika hujan turun.  ‘’Bukan tidak mungkin tempat pembuatan biopori ini berada di lahan pekarangan warga atau fasilitas umum,’’ ungkapnya.
Dikatakan, lubang resapan biopori memiliki fungsi ganda. Yaitu, sebagai resapan air dan bisa juga menjadi composting. ‘’Jadi ini sangat menguntungkan. Karena itu, kami yakin masyarakat juga tidak akan keberatan jika ternyata nanti pekarangannya menjadi tempat pembuatan biopori ini,’’ yakinnya.
Selain persiapan pendataan, saat ini pihaknya juga sedang mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan, seperti mesin bor. Ia juga sedang sibuk mensosialisasikannya kepada masyarakat. ‘’Setelah dicanangkan oleh pemerintah, kita berharap ke depan masyarakat bisa membuat sendiri,’’ harapnya.
Meski biopori ini mempunyai ukuran kecil, namun efektifitas penyerapannya tidak kalah dengan sumur resapan. Bedanya hanya ukurannya yang lebih kecil sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas. ‘’Kita berharap, setelah ini terealisasi, titik-titik genangan di Mataram secara bertahap bisa berkurang,’’ ujarnya.
Tidak seperti pembuatan lubang biopori yang masih sebatas rencana, saat ini perbaikan darainase justru sudah mulai dilakukan. Seminggu terakhir ini, sejumlah drainase terlihat sudah ditangani secara fisik oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram.  Seperti perbaikan drainase di Jalan Udayana.
Kepala Dinas PU Kota Mataram H Mahmudin Tura menyatakan, selain di Jalan Udayana, sejumlah drainase juga sudah masuk dalam daftar perbaikan. Namun dari sekian banyak drainase yang rusak, akan diprioritaskan drainase-drainase rawan banjir. ‘’Jadi beberapa titik wilayah yang saat ini rawan banjir akan kita perbaiki dulu,’’ ungkapnya.
Perbaikan drainase ini juga baru menggunakan dana APBD Kota Mataram 2011. Artinya, Dinas PU sampai saat ini belum menggunakan dana yang diterima dari pemerintah pusat dalam bentuk dana ad hoc yang nilainya sekitar Rp 10 miliar. ‘’Kalau dana yang berasal dari APBD ini nilainya sekitar Rp 2 miliar lebih,’’ jelasnya.(oni)

bagaimana dengan daerah lain, setelah ada daerah yang melakukan hal secamam ini apakah akan ikut membentuk hal yang serupa ataukah menunggu banjir datang.