Populasi dan distribusi badak di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung Barat, cenderung tidak ditemukan jejaknya setelah ditingkatkannya status Jalan Sangi Bengkunat menjadi jalan nasional.

Induk betina Sumatera bernama Ratu, Senin (25/6/2012), hanya tiduran sambil menjaga bayinya yang baru dilahirkan Sabtu 23 Juni 2012 pukul 00.45, kemarin lusa. Kelahiran mamalia bercula dua ini di penangkaran semialami, di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas Lampung ini membuka peluang untuk memperbanyak populasi habitat yang dilindungi itu.


Leader Project WWF Wilayah Lampung-Bangkulu Yob Carles, di Bandar Lampung, Sabtu (28/7/2012), mengatakan, pada 2008 masih banyak ditemukan populasi badak di sekitar kiri-kanan jalan tersebut. Namun, seiring peningkatan status dan jumlah kendaraan yang melintasi jalan itu, populasi badak di kawasan TNBBS cenderung berkurang.

“Kami tidak menemukan jejak badak di sekitar jalan itu setelah ada peningkatan status jalan, tetapi masih ditemukan jejak sejumlah hewan lainnya, sepeti macan, harimau, gajah, dan hewan penghuni inti hutan lainnya,” tutur Yob.

Badak, tambahnya, merupakan binatang yang memiliki peran menjaga kelestarian hutan. Hanya badak yang mau memakan makanan liar, seperti matangan yang melilit di sebagian pohon-pohon besar yang ada di hutan.

“Jika populasi badak hutan tidak kita jaga keberadaannya, kemungkinan hewan yang akan menyerap matangan itu semakin berkurang dan dengan sendirinya pohon-pohon besar yang ada di dalam kawasan akan tumbang,” paparnya.

Temuan semakin berkurangnya jejak badak terungkap dari hasil penelitian WWF tentang populasi dan distribusi satwa top predator terhadap peningkatan status Jalan Sangi Bengkunat.

“Penelitian itu dilakukan sejak tahun 2011, yang mana tim WWF memasang sekitar 50 camera trapdengan interval dua sampai empat kilometer dari satu titik ke titik lainnya dan berjarak sekitar 500 meter dari tepi jalan,” ujarnya.

Atas temuan tersebut, pihaknya mengharapkan pemerintah segera memasang pembatas jalan untuk menjaga kemungkinan konflik antara manusia dan satwa dan kemungkinan perburuan liar.

“Jalan itu sangat rawan. Kami mengkhawatirkan jika pemerintah tidak segera memberi marka jalan di sekitar kiri-kanan Jalan Sangi Bengkunat, maka akan membahayakan pengguna jalan yang melintas di sana. Bahkan, terdapat kemungkinan justru hewan itu sendiri yang mati akibat pemburu liar yang semakin mudah mendapat akses ke sana,” ungkapnya. Sumber : ANT