Upaya konservasi hewan endemik Kalimantan Barat terganjal dengan tak adanya areal konservasi untuk pelepasliaran. Hingga saat ini, untuk pelepasliaran orangutan Kalimantan Barat mesti diterbangkan ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

OT ejek

Adi Irawan, Manajer Pusat Rehabilitasi International Animal Rescue, mengatakan hingga saat ini masih banyak orangutan yang mereka tangani belum dilepasliarkan. “Kita sempat memikirkan Pulau Karimata, atau beberapa tempat yang sulit aksesnya bagi manusia. Tapi masih wacana” Menurut Adi, pelepasliaran orangutan Kalimantan Barat idealnya dilakukan di wilayah Kalimantan Barat. Mengingat jika dilepasliarkan di daerah lain, spesiesnya berbeda dengan orangutan setempat.

Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Tengah, Pongo pygmaeus pygmaeus mendiami daerah Kalimantan Barat, sedangkan orangutan Kalimantan Timur P morio mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur.  Orangutan di Kalimantan Timur merupakan sub spesies terkecil.

Kita belum mau melepasliarkan ke areal konservasi di kawasan Laman Satong, lantaran areal tersebut belakangan ada konflik antara konsesi kawasan perkebunan kelapa sawit dan lahan tambang,” katanya.

Tahun ini, International Animal Rescue Indonesia telah menangani dua kasus temuan orangutan. Seekor di antaranya, harus diamputasi di salah satu lengannya yang luka terkena jerat babi penduduk setempat. Seekor lagi adalah penyerahan dari PT Kayong Agro Lestari karena hewan tersebut masuk ke areal perkebunan kelapa sawit.

Petrus Kanisius, peneliti Yayasan Palung mengatakan, tak heran hewan tersebut merangsek masuk ke kebun masyarakat atau perusahaan. Pasalnya pakan mereka yang berada di hutan sudah langka. Hal ini diakibatkan, areal hutan tempat mereka hidup yang menyempit.