Lembaga penelitian belum dioptimalkan untuk mengolah sampah sungai. Padahal, mereka memiliki sumber daya manusia dan keahlian teknis.

”Kami memiliki alat canggih untuk penelitian mikroba. Penelitinya pun hebat-hebat. Kami pasti mampu (menemukan pengolahan sampah di sungai menggunakan mikroba) jika diberi kesempatan,” kata Endang Sukara, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa (6/11/2012), di Jakarta.

Ia menanggapi rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendatangkan bakteri asal China untuk mengatasi pencemaran/mengurai sampah di Sungai Ciliwung. Bakteri yang belum disebutkan jenisnya itu rencananya akan diuji coba pada anak sungai Ciliwung, dekat Istana Negara.

Endang yang juga peneliti mikrobiologi mengaku heran dengan rencana impor bakteri asal China. Menurut dia, Indonesia yang beriklim tropis memiliki keanekaragaman bakteri jauh lebih banyak dibandingkan dengan China yang memiliki empat musim.

Sayangnya, potensi ini belum diungkap maksimal. Ia siap menerjunkan penelitinya jika Pemprov DKI Jakarta meminta LIPI menemukan mikroba yang cocok mengurai sampah Sungai Ciliwung. ”Dalam 1 gram ada miliaran mikroba yang jenisnya macam-macam. Pasti di dalamnya ada mikroba yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan, menguraikan sampah atau limbah, ataupun mengurangi bau busuk,” kata Endang.

Satu tahun

Paling lama butuh waktu setahun untuk menemukan dan mengidentifikasi mikroba yang sesuai. Setelah diisolasi dan dikembangbiakkan, bakteri mampu bermultiplikasi hingga 10 pangkat 10 dalam 24 jam.

Endang berharap, kalaupun rencana impor bakteri dilakukan, introduksinya dilakukan sangat hati-hati dan tidak gegabah. Diingatkan, kendali atas bakteri yang dilepaskan di suatu ekosistem (ruang tak terkontrol) sulit dilakukan.

Sementara itu, Sarjiya Antonius, Ketua Kelompok Penelitian Ekologi dan Fisiologi Mikroba Bidang Mikrobiologi Puslit Biologi LIPI, mengatakan, selama ini pihaknya banyak meneliti penanganan limbah di sungai dan aplikasinya pada instalasi pengolah air limbah. Lembaga riset ini juga memiliki koleksi mikroba pendegradasi limbah organik dan juga pestisida tertentu.

Oleh karena itu, mereka siap bila diminta menangani persoalan limbah sungai.

Dengan kemampuan yang dimiliki LIPI dan lembaga riset lainnya di dalam negeri, Sarjiya berharap kerja sama dengan pihak asing melibatkan institusi nasional. Tujuannya, kapasitas dalam negeri diberdayakan.

”Perusahaan asing yang akan bekerja menggunakan agen hayati termasuk mikroba harus berkoordinasi dengan lembaga riset, terutama terkait lingkungan bebas seperti sungai,” ujar Sarjiya.(ICH/YUN)