Orangutan yang di tubuhnya terdapat lebih dari 100 peluru kini sedang melalui proses pemulihan. Aan, si orangutan itu, ditembaki oleh pemuda setempat menggunakan senapan angin karena ia berkeliling di sekitar kebun kelapa sawit di Kalimantan.

Orangutan tersebut, yang diperkirakan berusia 15 tahun, diselamatkan oleh petugas konservasi. Mereka menemukan ada 104 peluru bersarang di organ vital Aan, termasuk mata dan telinga.

X-ray menunjukkan betapa mengerikannya perlakuan kejam para penembak Aan. Dokter hewan berhasil mengangkat 37 peluru dari kepalanya, dan 67 peluru lagi dari tubuhnya.

Mengerikan: X-ray menunjukkan lebih dari 30 peluru di kepala Aan (SWNS)

Orangutan yang terancam punah ini mengalami kebutaan setelah serangan beruntun. Aan menjalani prosedur selama tiga jam untuk menangani luka tembak dan kini mulai pulih.

Zulfiqri, dokter hewan dari Orangutan Foundation yang berbasis di Inggris, mengangkat 32 peluru senapan angin di tubuh dan kepala Aan dalam operasi yang berlangsung di kantor BKSDA Kalimantan Tengah di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Aan kini sudah bisa makan dan minum serta “menunjukkan ketahanan luar biasa atas semua yang telah ia lalui”.

Sayangnya, Aan mengalami kebutaan. Pemindaian pun menunjukkan masih ada selusin peluru yang tertanam di dalam atau sekitar matanya. Air dan makanan pun harus disentuhkan atau ditaruh langsung di tangannya.

Yayasan Orangutan mengatakan Aan tak mungkin dilepas lagi ke alam liar karena dia akan menjadi sasaran empuk buat para pemburu dan petani yang marah dan melihat orangutan sebagai hama.

Kisah Aan adalah contoh tragis lain akan nasib yang harus dihadapi oleh orangutan karena habitat mereka hancur.

Aan, 15, sebelum menjalani operasi (SWNS)

Meski keberadaannya dilindungi oleh hukum, orangutan hidup di kawasan hutan tropis yang hancur oleh pembalakan dan konversi ke kebun sawit.

Harapannya, kisah Aan bisa meningkatkan kesadaran akan betapa kejamnya kondisi yang harus dihadapi oleh orangutan di alam liar, selain juga mendorong diberlakukannya hukuman berat buat mereka yang memburu dan membunuh hewan terancam punah.

Awal tahun ini, empat pria dipenjara selama 8 bulan karena menembaki dan memukuli tiga orangutan serta satu monyet hidung panjang sampai mati di Kalimantan Timur.

Bambang Hartono, kepala balai konservasi lokal, mengatakan, “Semoga Aan kini merasa lebih nyaman berada di hutan, meski hidup dalam kandang besar.”

“Bersama dengan Orangutan Foundation, kami akan mencari cara terbaik agar Aan bisa terus hidup.”

Ashley Leiman OBE, direktur Orangutan Foundation menambahkan: “Kami sudah bekerja di Kalimantan selama 20 tahun, tapi tak pernah harus menyelamatkan tiga orangutan dalam empat hari. Penyebab kenaikan intensitas ini bisa jadi karena berkurangnya habitat orangutan atau karena semakin banyak orang yang melapor soal orangutan ke badan konservasi, sedangkan sebelumnya bisa saja mereka langsung membunuh si orangutan.”