Warga Suku Bajo, dari dewasa sampai anak-anak turun ke tepian laut menanam mangrove. Foto: Christopel Paino

SUKU Bajo adalah para pengembara laut yang terkenal ulung. Mereka bisa dipisahkan dari kehidupan laut. Suku ini tersebar di beberapa daerah di Sulawesi. Salah satu di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Dulu, Suku Bajo di Gorontalo ini dikenal sebagai perusak mangrove. Mereka menebang mangrove untuk kayu bakar dan bahan utama pembuatan rumah. Cap perusak itu terus muncul pada masyarakat Bajo. Hamparan mangrove di kawasan Torisiaje, tepat di bibir Teluk Tomini, yang semula rimbun pun, menjadi gersang.

”Perusakan mangrove mulai terjadi 1980-an. Persoalan utama pendidikan dan pengetahuan masyarakat kurang tentang betapa penting mangrove bagi kehidupan masyarakat Bajo,” kata Umar Pasandre, tokoh masyarakat Bajo, kepadaMongabay, Senin(17/12/12).

Umar, asli suku Bajo lahir dan besar di Torosiaje, 38 tahun lalu. Dia aktif memberikan penyadaran terhadap warga Bajo dan suku lain, bahwa betapa penting menjaga lingkungan.

Tahun 2007, dia berinisiatif membentuk kelompok nelayan sadar lingkungan beranggota tiga desa di perkampungan Bajo, yakni Desa Torisiaje Laut, Torisiaje Jaya, dan Desa Bumi Bahari. Salah satu tugas kelompok nelayan sadar lingkungan itu adalah menjaga ekosistem laut dengan menanam mangrove.

Usaha Umar mendapat suntikan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) dan program Teluk Tomini Susclam (Sustainable Coastal Livelihoods and Management). Lembaga ini juga kampanye menhentikan perusakan mangrove.

Caranya, dengan membuat diskusi kampung, baik bagi anggota kelompok nelayan sadar lingkungan, maupun nelayan dan warga. “Diskusi ini rutin. Tujuannya, pemahaman menyeluruh dari masyarakat tentang lingkungan, terutama mangrove di Torosiaje.”

Perlahan, masyarakat pun mulai sadar. Jika mangrove kritis, nelayan susah mencari ikan. Padahal, masyarakat Bajo yang menggantungkan hidup di laut tak punya keahlian lain selain mencari ikan. Tak pelak, kemiskinan makin akrab dengan orang-orang Bajo.

Dalam menangkap ikan, banyak nelayan menggunakan cara tidak ramah lingkungan, seperti bom, potasium, dan alat selam berbahaya bagi nyawa mereka: kompresor.

“Di desa kami, banyak nelayan meninggal gara-gara menggunakan bom, dan banyak cacat karena memakai alat selam kompresor,” kata Husain Onte, warga Bajo.

Menyadari betapa sulit mendapat ikan, beberapa warga mulai meyakini persoalan itu karena tempat bertelur ikan, yakni mangrove, mengalami kerusakan dan banyak ditebang untuk pembuatan rumah dan dijadikan kayu bakar.

Ahmad Bahsoan, Ketua Japesda mengatakan, di Torosiaje, luas hutan mangrove 135 hektar, sekitar 25 hektar rusak. Warga Torosiaje berhasil menanam 5.000 bibit jenisCheriops stagal,Rhyzophora mucronata,danBruguera.

Di perkampungan Bajo di Desa Torosiaje, keterlibatan masyarakat dalam penyelamatan dan pelestarian mangrove juga dilakukan ibu-ibu, dan siswa.

Nurlian Lahasan, seorang ibu rumah tangga, mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari, para ibu-ibu di Torosiaje akrab dengan mangrove. Selama ini,  mereka kerap memanfaatkan batang pohon mangrove untuk kayu bakar.

”Sekarang kami mengambil dengan tebang pilih. Kayu mangrove yang sudah jatuh atau mati yang kami jadikan sebagai kayu bakar.”

Untuk lebih memberdayakan masyarakat sekitar agar tidak lagi menebang mangrove, nelayan setempat membuat rumpon ikan dengan bantuan dari program Susclam yang digerakan Japesda. Meski demikian, tantangan masyarakat Bajo adalah sesama orang Bajo di Torosiaje.

”Masih ada beberapa warga suka mengambil mangrove dijadikan pagar rumah. Tapi hanya sedikit, tidak seperti dulu,” kata Umar. Kini, kesadaran  masyarakat mulai muncul. Setiap kali ada penanaman dan rehabilitasi mangrove di Desa Torosiaje, hampir semua masyarakat turun ikut penanaman. ”Karena kami tidak ingin lagi cap sebagai perusak mangrove.”

Penanaman mangrove di Torosiaje Bajo, Gorontalo Foto: Christopel Paino

Ramai-ramai menanam mangrove. Foto: Christopel Paino