Aktivitas tambang terbuka Grasberg, PT Freeport Indonesia di Papua, Sabtu (12/5/2012). Tambang terbuka Grasberg (kawasan puncak) yang menjadi andalan selama ini akan ditutup pada 2016, potensi yang mulai ditambang dari deposito bawah tanah masih akan berproduksi hingga 2041. Tahun 2041 adalah masa berakhirnya seluruh kontrak (dan masa perpanjangan) Freeport di kawasan ini.

Pembangunan ekonomi yang konvensional dan bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam menimbulkan masalah sosial dan lingkungan. Jika pola pembangunan ini diteruskan, bukan tidak mungkin Indonesia justru menuai kehancuran 100 tahun setelah kemerdekaannya.


Hal tersebut diungkapkan oleh Emil Salim, Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup dalam diskusi dan peluncuran buku “Bioresources untuk Pembangunan Pembangunan Ekonomi Hijau” di Jakarta, Kamis (8/2/2013).

Emil mengkritisi bagaimana pembangunan saat ini mengorbankan ekosistem, salah satunya adalah kegiatan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. “Saat ini monokultur dominan, tambang dominan. Kalau seperti ini, Indonesia hancur tahun 2045,” katanya.

Menurut Emil, seperti yang diuraikan dalam buku terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia kaya akan bioresources. Sumber daya alam hayati tersebut semestinya bisa menunjang kebutuhan pembangunan di bidang pangan, farmasi, energi, material dan lainnya.

Kekayaan sumber daya alam hayati membuka kemungkinan mengubah pola pembangunan dari eksploitasi sumber daya alam yang hanya berdampak secara ekonomi menjadi pengayaan nilai sumber daya alam yang berdampak secara ekonomi, sosial dan lingkungan.

Eksploitasi sumber daya alam sudah tidak dapat dimungkinkan lagi dalam jangka panjang. Emil mencontohkan, sebelum Indonesia mencapai usia kemerdekaan 100, bahan tambang yang tersisa hanya tembaga dan batubara. Lainnya, habis.

Pembangunan, kata Emil, harus dilakukan pada konsep ilmuwan, bukan konsep politisi. Politisi umumnya hanya berorientasi jangka pendek. Misalnya, bagaimana pasca pemilu 2014. Pembangunan harus dipikirkan jauh ke depan.

“Kita harus switch dari eksploitasi ke enrichment,” kata Emil. “Apakah kita mau Indonesia cuma jaya tahun 2014 tapi harus babak belur tahun 2045 setelah 100 tahun kemerdekaan?” tambah Emil yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai menteri lingkungan hidup.

Emil mengungkapkan, pemanfaatan potensi alam Indonesia seperti untuk sawit tetap bisa dilakukan namun tidak berlebihan. Lahan kelapa sawit seharusnya bisa memanfaatkan lahan telantar, bukan memanfaatkan lahan hutan yang kaya biodiversitas.

KOMPAS.com

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Kamis, 7 Februari 2013 | 16:28 WIB