Nelayan melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan, termasuk ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir November 2015. Foto : Jay Fajar

Nelayan melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan, termasuk ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir November 2015. Foto : Jay Fajar

Indonesia sudah sejak lama dikenal luas sebagai negara yang memiliki kekayaan laut yang banyak. Popularitas tersebut membuat Indonesia sejak lama selalu menjadi target utama pencarian ikan dalam jumlah skala kecil maupun besar. Tak heran, di Indonesia kemudian hari muncul aktivitas illegal, unreported, unregulated (IUU) Fishingyang tidak lain adalah pencurian ikan besar-besaran.

Namun, walau sudah dieksploitasi dengan skala besar sejak lama, potensi laut Indonesia nyatanya masih belum banyak tergali. Meskipun, Pemerintah Indonesia mengklaim sumber daya perikanan dan kelautan saat ini beberapa di antaranya ada yang sudah overfishing.

Nelayan melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan, termasuk ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir November 2015. Foto : Jay Fajar

Pakar Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan Koropitan mengatakan, potensi yang hingga saat ini belum banyak tergali, adalah potensi yang ada dalam kawasan ekosistem pelagis atau kawasan laut lepas. Di Indonesia, ekosistem pelagis banyak tersebar di hampir semua provinsi.

“Kita harus bisa berupaya mengenali potensi yang ada dalam ekosistem pelagis. Karena, ini yang belum banyak dikenali oleh publik, khususnya oleh nelayan danstakeholder perikanan dan kelautan,” ucap dia dalam workshop Mapping The Oceans Wealth yang dilaksanakan di Jakarta, Rabu (20/07/2016).

Dalam ekosistem pelagis, Alan menjelaskan, ada banyak sekali potensi kekayaan laut yang bisa digali dan dimanfaatkan untuk kepentingan khalayak banyak. Salah satunya, adalah potensi perikanan yang hingga kini masih belum banyak dimanfaatkan, utamanya yang ada di kawasan utara Pulau Papua.

“Ikan pelagis produksinya sangat bagus dan itu adanya di bawah laut (dalam). Ini yang harus dimanfaatkan,” sebut dia.

Alan mencontohkan, di utara Pulau Papua, saat ini pemanfaatan perikanan di ekosistem pelagis masih jarang tersentuh, dan bahkan bisa dikatakan belum ada yang memanfaatkannya. Salah satu kendalanya, karena kawasan ekosistem pelagis memerlukan armada laut yang lebih tangguh dan perlu dukungan teknologi lebih bagus.

Karena ekosistem pelagis berada di laut lepas, Alan mengungkapkan, akan ada perubahan yang signifikan akibat perubahan arah angin dan itu memicu terjadinyaupwelling. Saat terjadinya upwelling, air bergerak 90 derajat dari arah mata angin dan itu sesuai dengan lokasi di bagian bumi mana lautnya.

“Contohnya di Pulau Jawa, jika musim timur sedang berlangsung, maka akan bergerak ke kiri hingga 90 derajat. Saat terjadi pergerakan tersebut, akan terjadi kekosongan massa air,” ungkap dia.

Alan kemudian menambahkan, perubahan akan terjadi lebih ekstrem lagi jika fenomena alam El Nino berlangsung. Biasanya, upwelling yang terjadi akan menguatkan magnitude dan itu memicu peningkatan produksi ikan pelagis kecil,” papar dia.

“Itu karena, saat El Nino terjadi, ada peningkatan plankton dalam rantai makanan. Saat musim normal pun, kalau plankton bertambah, pelagis kecil akan meningkat, apalagi kalau El Nino sedang berlangsung,” ungkap dia.

Di Indonesia saat ini, ekosistem pelagis menyediakan pusat lokasi tangkapan ikan yang tersedia di selatan Pulau Jawa dekat Samudera Hindia, selatan Pulau Bali, dan selatan pulau Timor yang keseluruhannya mencakup dalam Lesser Sunda Region.

Kelimpahan Tuna

Berkaitan dengan La Nina, Alan menuturkan,ada wilayah perairan yang mendapatkan keuntungan dan itu letaknya di perairan bagian atas di Pulau Papua. Biasanya, karena La Nina, cakalang akan masuk ke kawasan perairan tersebut dan itu meningkatkan jumlah produksinya dengan signifikan.

“Namun, saat El Nino berlangsung, sebaliknya terjadi. Cakalang akan menjauh dari perairan bagian timur di atas Papua,” jelas dia.

Sepanjang 2014 saja, Alan mengingatkan, diperkirakan ada 185.675 ton  ikan tuna berbagai jenis yang berhasil ditangkap. Jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih sedikit dari jumlah sebenarnya ikan tuna yang tersedia di lautan lepas.

Tuna segar tangkapan nelayan Gunung Kidul, Yogyakarta. Beragam masalah mengelilingi sektor perikanan, dari penyakit ikan, ekosistem rusak sampai perubahan iklim. Foto: Tommy Apriando

Tuna segar tangkapan nelayan Gunung Kidul, Yogyakarta. Beragam masalah mengelilingi sektor perikanan, dari penyakit ikan, ekosistem rusak sampai perubahan iklim. Foto: Tommy Apriando

Banyaknya ikan tuna yang tersedia di lautan lepas, diperkuat dengan pernyataan Priska Widyastuti, peneliti dari Hattfield. Dari hasil penelusuran lilteratur yang dia lakukan, pasokan ikan tuna di seluruh Indonesia, lebih dari 90 persen merupakan pasokan dari lautan lepas.

“Peningkatan jumlah produksi tuna di Indonesia sangat dipengaruhi oleh peristiwa alam seperti upwelling dan monsoon,” jelas dia.

Sementara itu Marketing and Communications Director The Nature Conservancy(TNC) Indonesia Tri Soekirman, pemetaan kekayaan lautan di Indonesia, diharapkan bisa menjadi momentum  bagi peningkatan pemahaman akan pentingnya dan peran layanan yang dapat diberikan ekosistem pelagis di Indonesia.

“Ekosistem pelagis sendiri dalam terjemahannya merupakan ‘kolam air’ yang membentang dari garis pantai sampai laut dalam,” jelas dia.